Jurnal
Prasasti Batutulis dan Kata “Samida”: Apa yang Benar-benar Tercatat
Di Bogor berdiri sebuah batu bertulis yang tidak besar dan tidak mencolok. Prasasti Batutulis, bertarikh 1533 Masehi, ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda Kuno, dan didirikan untuk mengenang Sri Baduga Maharaja.
Di antara hal-hal yang disebut di batu itu, ada satu kata yang kami pinjam untuk nama sebuah hutan dan sebuah merek: Samida.
Karena kami meminjamnya, kami merasa berutang penjelasan tentang apa yang sebenarnya tertulis di sana — dan, yang lebih penting, apa yang tidak tertulis.
Apa yang tercatat
Prasasti Batutulis menyebutkan sejumlah pekerjaan yang dilekatkan pada masa Sri Baduga Maharaja: penataan kawasan, pembuatan jalan berbatu, sebuah telaga. Di antara daftar itu tercatat sesuatu yang disebut Samida.
Itulah keseluruhan catatannya. Sebuah nama, di dalam sebuah daftar, di sebuah batu peringatan.
Perlu ditambahkan bahwa pembacaan prasasti berbahasa Sunda Kuno bukan hal yang tunggal dan selesai. Para ahli epigrafi membaca beberapa bagiannya dengan cara yang tidak persis sama, dan terjemahan yang beredar di ruang publik kadang lebih tegas daripada teks aslinya membolehkan. Itu sifat wajar dari sumber setua ini, dan bukan alasan untuk mengarang.
Apa yang tidak tercatat
Ini bagian yang lebih sering dilewati, dan justru yang paling penting.
Prasasti itu tidak menyebutkan:
- pohon apa yang ada di sana;
- bentuk hutannya, atau apakah ia hutan dalam pengertian yang kita pakai hari ini;
- bagaimana ia dirawat, dan oleh siapa;
- untuk apa ia ada — upacara, bahan, perlindungan air, atau hal lain;
- hubungan apa pun dengan pembuatan wangi-wangian, dupa, atau perawatan tubuh.
Semua kalimat yang menjelaskan hal-hal di atas adalah tafsir, bukan catatan. Sebagian tafsir itu masuk akal dan didukung pembacaan yang serius. Tetapi tafsir yang dituliskan seolah-olah ia catatan adalah cara paling halus untuk berbohong tentang masa lalu.
Pola yang kami pakai
Untuk setiap hal yang menyangkut sejarah di situs ini, kami memakai urutan yang sama:
ingatan → pertanyaan → tafsir masa kini.
Bukan: sejarah → kepastian yang dikarang → klaim jualan.
Diterapkan pada Samida, bentuknya begini: sebuah kata bertahan di batu selama hampir lima abad. Kami tidak tahu persis seperti apa Samida itu — jenis pohonnya, cara merawatnya, atau untuk apa ia ada. Yang tersisa adalah katanya. Dan sebuah pertanyaan: apa arti hutan bagi kita hari ini?
Pertanyaan itu yang kami kerjakan. Bukan rekonstruksinya.
Kenapa kami tidak menyebutnya “menghidupkan kembali”
Kata seperti “menghidupkan kembali”, “mewarisi”, atau “melanjutkan” mensyaratkan garis yang bisa ditunjuk antara yang dulu dan yang sekarang. Garis itu tidak ada. Hutan yang kami tanam di Cimenyan sejak Agustus 2024 bukan hutan yang sama dengan apa pun yang disebut di batu itu, dan menyamakan keduanya akan menukar sebuah kata yang jujur dengan sebuah klaim yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Yang kami lakukan lebih sederhana dan lebih bisa dijelaskan: kami mengambil sebuah kata dari ingatan budaya yang masih tersimpan, dan memakainya untuk sesuatu yang kami kerjakan sekarang, dengan menyebutkan bahwa itulah yang sedang kami lakukan.
Pajajaran Anyar, sebagai pertanyaan
Dari cara berpikir yang sama muncul istilah yang kami pakai secara internal: Pajajaran Anyar. Ia bukan program membangun kembali kerajaan, bukan kerinduan pada hierarki, dan bukan pementasan ulang masa lalu.
Pertanyaannya sederhana: dari ingatan budaya, apa yang masih berguna sekarang? Itu pertanyaan yang boleh dijawab berbeda-beda oleh orang yang berbeda, dan itulah sebabnya kami menuliskannya sebagai pertanyaan.
Dari kata ke tanah
Apa yang tumbuh dari cara berpikir ini bisa dibaca di dua tempat: Leuweung Samida, hutan yang sedang kami tumbuhkan, dan House of Samida, workshop tempat bahan diolah menjadi produk.
Kata Sunda yang menjembatani keduanya adalah Mulasara — merawat — dan kami menulisnya terpisah di artikel tentang Mulasara.
Satu kalimat yang selalu kami sertakan ketika sejarah disebut: hutannya masih muda, dan produk kami hari ini belum dibuat dari tanaman yang tumbuh di sana. Cerita yang lama tidak memperpendek jarak itu.