Lompat ke konten

Jurnal

Mulasara: Kata Sunda untuk Merawat

Bahasa Sunda punya kata untuk merawat: mulasara. Artinya menjaga sesuatu tetap hidup, dan bertanggung jawab atas kelanjutannya.

Kata itu kami pakai sebagai cara kerja, dan tulisan ini menjelaskan apa artinya bagi kami — termasuk bagian yang tidak nyaman.

Sebuah filosofi masa kini, bukan doktrin kuno

Perlu disebut lebih dulu, karena ini jenis kesalahan yang mudah terjadi dan sulit ditarik kembali: cara kami memakai Mulasara adalah rumusan masa kini, yang diartikulasikan oleh pendiri House of Samida.

Ia bukan ajaran Pajajaran, bukan warisan leluhur yang diturunkan utuh, bukan doktrin yang bisa ditunjuk sumbernya di naskah tua. Menuliskannya sebagai itu akan memberi bobot yang tidak pernah dimilikinya, dan bobot pinjaman semacam itu selalu tagihannya datang belakangan.

Yang tua adalah katanya. Susunan pikirannya baru.

Urutannya: ritual → kesadaran → Mulasara → tindakan

Rumusannya berjalan dalam empat langkah, dan yang menarik justru arah perpindahannya.

Ritual

Bentuk yang diulang. Ritual tidak harus sakral; menyiram tanaman pada jam yang sama setiap pagi juga ritual. Fungsinya membuat sesuatu terjadi tanpa perlu diputuskan ulang setiap hari.

Kesadaran

Ritual yang diulang cukup lama membuat orang memperhatikan. Anda mulai melihat daun mana yang berubah, tanah mana yang lebih cepat kering, bagian mana yang selalu terlewat. Perhatian ini tidak datang dari niat baik; ia datang dari pengulangan.

Mulasara

Kesadaran yang berlanjut menjadi tanggung jawab. Di titik ini yang dirawat bukan lagi sekadar objek yang Anda sukai, melainkan sesuatu yang kelanjutannya menjadi urusan Anda.

Tindakan

Dan tanggung jawab yang nyata berakhir pada pekerjaan — pada hal-hal yang dikerjakan, dibiayai, dan diulang, bukan pada hal-hal yang diyakini.

Inti dari urutan ini: ia memindahkan pertanyaan dari keyakinan ke tindakan. Pertanyaannya bukan “apakah Anda peduli pada hutan”, melainkan “apa yang Anda kerjakan hari Selasa”.

Kenapa ini menyulitkan cara kami menulis

Kalau merawat diukur dari pekerjaan, maka pemasaran tidak bisa berjalan lebih cepat daripada pekerjaannya. Itu terdengar seperti prinsip yang enak dituliskan, dan dalam praktik ia merepotkan.

Contoh yang paling jelas ada di situs ini juga. Kami tidak menerbitkan jumlah pohon yang kami tanam, karena angka itu belum dihitung dengan tanggal dan penanggung jawab. Kami tidak menuliskan bahwa produk kami berasal dari hutan kami, karena hari ini memang belum. Kami tidak memakai kata yang menyatakan sertifikasi yang tidak kami pegang.

Setiap keputusan itu menghilangkan kalimat yang akan menjual lebih baik. Itulah bentuk konkret dari “memindahkan pertanyaan dari keyakinan ke tindakan”: kalau pekerjaannya belum ada, kalimatnya juga belum boleh ada.

Patarema Rasa sebelum Patarema Pancen

Satu prinsip lain yang berjalan berdampingan: bangun hubungan dulu, baru bicara peran. Tidak semua orang harus berkontribusi dengan cara yang sama.

Dalam sebuah kerja yang melibatkan petani, pengrajin, tetangga, dan orang-orang yang datang karena penasaran, urutan ini menentukan banyak hal. Mendahulukan peran membuat orang menjadi fungsi. Mendahulukan hubungan membuat peran muncul dari apa yang memang bisa dan ingin dilakukan orang itu.

Ia juga lebih lambat. Itu bagian dari harganya.

Merawat sebagai ukuran waktu

Hal terakhir, dan mungkin yang paling praktis. Merawat hanya bisa dinilai dalam rentang waktu yang panjang. Sebatang pohon yang ditanam tidak membuktikan apa-apa; sebatang pohon yang masih hidup lima tahun kemudian membuktikan sesuatu.

Itu sebabnya kami menuliskan tanggal mulai — Agustus 2024 — dan bukan menuliskan pencapaian. Tanggal bisa diperiksa. Pencapaian, di tahun kedua, sebagian besar masih berupa harapan.

Apa yang tumbuh dari cara kerja ini bisa dibaca di halaman Leuweung Samida dan House of Samida, dan asal-usul namanya di tulisan tentang Prasasti Batutulis. Bentuk sosialnya — tempat orang berkumpul dan ikut mengerjakan — ada di Echoes of Samida.