Leuweung Samida
Leuweung Samida adalah hutan yang sedang kami tumbuhkan di Cimenyan. Pekerjaannya dimulai pada Agustus 2024.
Sebuah kata yang bertahan
Dalam Prasasti Batutulis bertarikh 1533, di antara karya yang dilekatkan pada masa Sri Baduga Maharaja, tercatat sesuatu yang disebut Samida.
Kami tidak tahu persis seperti apa Samida itu: jenis pohonnya, cara merawatnya, atau untuk apa ia ada. Yang tersisa adalah katanya. Dan sebuah pertanyaan: apa arti hutan bagi kita hari ini?
Kami tidak sedang membangun ulang apa pun. Kami mulai dari pertanyaannya.
Mulasara
Mulasara adalah kata Sunda untuk merawat: menjaga sesuatu tetap hidup, dan bertanggung jawab atas kelanjutannya. Bagi Wenda Hermawan, Mulasara memindahkan pertanyaan dari keyakinan ke tindakan. Berbicara tentang hutan tidak lagi cukup.
Pekerjaannya dimulai dari tanah
Pada Agustus 2024 pekerjaannya menjadi fisik. Lahannya bukan hutan yang sudah jadi — ia terbengkalai, tertutup semak, dengan sisa-sisa pemakaian sebelumnya. Lahan dibuka sedikit demi sedikit.
Sebelum memikirkan apa yang bisa dihasilkan hutan, perhatian lebih dulu diarahkan ke apa yang membuat kehidupan bisa tumbuh di sana sama sekali: tanah, air, mikroorganisme, dan kondisi yang memungkinkan sebuah bentang lahan menopang kehidupan. Salah satu percobaan pertama adalah biokompon, dibuat dari bahan seperti pupuk kandang segar, batang pisang, jeringau, panglai, dan garam.
Menjelang akhir 2024, sebuah rumah kaca dan instalasi air mandiri selesai dibangun, dengan dukungan program CSR.
Yang tumbuh di sana
Kemenyan — genus Styrax — adalah salah satu tanaman yang kami tanam, bersama tanaman lain dan percobaan yang masih berjalan. Hutannya masih jauh dari matang, dan kami tidak ingin menceritakan sesuatu yang mendahului kenyataannya.
Hutannya masih muda. Produk House of Samida hari ini belum sepenuhnya dibuat dari tanaman yang tumbuh di Leuweung Samida — sebagian bahan masih datang dari luar, sementara hutan dan workshop tumbuh bersamaan.
Pajajaran Anyar
Bukan membangun kembali kerajaan. Pertanyaannya sederhana: dari ingatan budaya, apa yang masih berguna sekarang?